Banjir Lumpur Rusak Parah UPTD SMPN 2 Peusangan Bireuen, Ujian Ketangguhan yang Menyatukan Semangat Pendidik
SBS/Bireuen - Kondisi UPTD SMPN 2 Peusangan, Kabupaten Bireuen, pascabanjir lumpur yang terjadi beberapa waktu lalu, hingga Sabtu masih dalam keadaan sangat memprihatinkan. Endapan lumpur tebal merusak hampir seluruh fasilitas sekolah, bahkan pagar beton sekolah dilaporkan roboh akibat derasnya terjangan banjir.
Kepala UPTD SMPN 2 Peusangan, Andrian, M.Pd, mengatakan bahwa bencana alam tersebut menyebabkan kerugian materiil yang diperkirakan mencapai lebih dari Rp2 miliar. Meski demikian, pihak sekolah tidak larut dalam keputusasaan. Setiap hari, para guru dan tenaga kependidikan melakukan gotong royong, membersihkan lingkungan sekolah serta menyelamatkan perlengkapan yang masih dapat digunakan.
“Pembersihan lumpur belum bisa dilakukan secara maksimal
karena ketebalan endapan yang cukup parah. Untuk sementara, kami baru
membersihkan beberapa ruang kelas agar proses belajar mengajar dapat kembali
berjalan, meski secara bergantian,” ujar Andrian.
Ia menambahkan, kegiatan belajar direncanakan mulai aktif kembali pada 20 Desember 2025, mengingat masih terdapat sejumlah rombongan belajar yang belum dapat digunakan.
Dalam musibah banjir tersebut, Andrian memastikan tidak ada korban jiwa, baik dari kalangan guru maupun tenaga kependidikan, sebuah anugerah yang patut disyukuri di tengah kerusakan besar yang terjadi.
Lebih dari sekadar musibah fisik, bencana ini menjadi ujian moral dan keteguhan hati para pendidik. Lumpur yang menutupi halaman, dinding yang kotor, serta ruang kelas yang porak-poranda memang menyisakan duka. Namun di balik semua itu, tersimpan kesempatan untuk menunjukkan bahwa guru bukan hanya pengajar di ruang kelas, melainkan teladan dalam kehidupan.
Hari ini, para siswa menyaksikan bagaimana guru-gurunya bangkit dari keterpurukan. Mereka belajar bahwa kebersamaan tidak hanyut bersama banjir, dan semangat tidak ikut tenggelam oleh lumpur. Di pundak para pendidik, tersimpan tanggung jawab moral untuk mengembalikan ruang belajar sebagai tempat tumbuhnya harapan dan masa depan.
Gotong royong yang dilakukan menjadi bukti nyata bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung melalui papan tulis dan buku pelajaran, tetapi juga melalui tindakan, keikhlasan, dan kepedulian. Setiap sapuan lantai, setiap ember air yang diangkat, adalah wujud cinta kepada murid-murid dan dedikasi terhadap profesi pendidik.
“Kita mungkin lelah, namun kebersamaan membuat beban terasa lebih ringan. Kita mungkin bersedih, tetapi harapan akan selalu tumbuh ketika kita melangkah bersama,” ungkap salah seorang guru di sela kegiatan pembersihan.
Dengan hati yang tulus dan langkah yang serempak, keluarga besar UPTD SMPN 2 Peusangan optimistis sekolah ini akan bangkit kembali—lebih bersih, lebih kuat, dan lebih hangat.
Sebab di tangan para pendidik, masa depan anak-anak akan
selalu menemukan jalannya, meski harus melewati lumpur dan ujian yang berat. (Hendra)

Komentar
Posting Komentar