Langit India Lumpuh Total Akibat Maskapai Indigo Krisis Pilot

 


SBS/Internasional (India) - Industri penerbangan Negara India tengah diguncang krisis besar,  setelah salah satu Maskapai terbesar milik Negara itu IndiGo, terpaksa membatalkan banyak ribuan penerbangan di tengah musim liburan

Akibat kekurangan  pilot yang terjadi secara tiba-tiba,  membuat jadwal operasional Maskapai kacau dan meninggalkan ribuan penumpang terlantar di berbagai Kota besa

Sejak tanggal 2 Desember 2025, IndiGo yang biasanya mengoperasikan sekitar 2.200 penerbangan per hari, sudah membatalkan lebih dari 3.400 penerbangan. Ini disebut sebagai gangguan terburuk selama dua dekade sejarah maskapai tersebut.

Puncak pembatalan terjadi pada 5–7 Desember:

5 Desember: lebih dari 1.600 penerbangan batal terbang

6 Desember: sekitar 700 penerbangan dibatalkan

7 Desember: sekitar 650 pembatala

8 Desember: masih ada sekitar 400 penerbangan dibatalkan

Kota-kota besar seperti New Delhi, Mumbai, Ahmedabad, dan Hyderabad menjadi wilayah dengan dampak paling besar, membuat penumpang harus menunggu berjam-jam bahkan berhari-hari untuk penerbangan pengganti.

IndiGo menyebutkan operasional baru akan kembali normal sekitar 15 Desember.

Pengaruh Besar karena Dominasi Pasar

Dengan menguasai 65% pangsa pasar domestik, gangguan operasional IndiGo otomatis menekan ketersediaan tiket dan membuat harga melonjak. Kondisi ini memaksa pemerintah turun tangan untuk menetapkan batas harga tiket domestik agar kenaikan tidak semakin liar.

Jika digabungkan dengan Air India, kedua maskapai ini menguasai 92% pasar penerbangan India. IndiGo juga menjadi satu-satunya operator yang melayani sejumlah kota kecil seperti Shillong, Prayagraj, Agra, Kolhapur, dan Deogarh, sehingga pembatalan penerbangan di rute-rute ini memicu kekosongan layanan total.

Akar Masalah: Regulasi Jam Terbang Baru

Krisis ini dipicu penerapan regulasi baru terkait Flight Duty Time Limitations (FDTL) oleh pemerintah India pada awal 2024. Aturan ini dibuat untuk meningkatkan keselamatan penerbangan dengan pengaturan jam kerja pilot yang lebih ketat.

Beberapa poin penting aturan FDTL yang berlaku mulai 1 November:

Jam terbang malam dibatasi maksimal 10 jam

Pilot wajib mendapat 48 jam istirahat setiap minggu

Laporan kelelahan pilot wajib dikirim tiap 3 bulan ke DGCA

Jumlah pendaratan tengah malam/dini hari dibatasi maksimal dua kali seminggu

Regulasi ini disusun mengikuti standar global dari ICAO dan EASA serta menjawab keluhan panjang dari serikat pilot terkait risiko keselamatan akibat jam kerja yang panjang.

IndiGo Dinilai Tidak Sia

Meski aturan baru sudah lama disosialisasikan, banyak pihak menilai IndiGo tidak tanggap dalam melakukan penyesuaian. Mantan CFO AirAsia, Vijay Gopalan, menyebut manajemen IndiGo terlalu santai dan lambat merespons perubahan besar tersebut.

Serikat pilot seperti Federation of Indian Pilots turut mengkritik IndiGo. Mereka menilai maskapai justru

Menghentikan rekrutmen pilot

Membekukan gaji

Membuat perjanjian anti-pembajakan tenaga

Melakukan perencanaan operasional jangka pendek yang tidak memadai

Kombinasi regulasi baru dan manajemen yang kurang sigap inilah yang memicu kekacauan jadwal penerbangan dalam skala besar.(Satriya/Info Penerbangan)

Komentar