Tokoh Masyarakat Juli Menyayangkan Minimnya Peran Camat Juli dalam Penanganan Bencana Banjir

 

Tokoh Masyarakat Balee Panah Menyayangkan Minimnya Peran Camat Juli dalam Penanganan Bencana Banjir


BSB/Bireuen
- Tokoh masyarakat Desa Juli, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen, menyampaikan kekecewaan atas sikap Camat Juli, Hendri, yang dinilai belum menunjukkan peran maksimal dalam penanganan bencana banjir yang melanda wilayah tersebut. Selain disebut tidak pernah turun langsung ke lokasi bencana, Camat Juli juga dinilai tidak menindaklanjuti rekomendasi Sekretaris Daerah terkait permohonan bantuan logistik bagi Dayah Istiqamatuddin Babul Ilmi yang berlokasi di Jalan Bireuen–Takengon KM 10, Dusun Barona, Desa Balee Panah. 

Hal tersebut disampaikan oleh tokoh masyarakat setempat, Muhammad Rafi, didampingi Abdulrahman dari Desa Simpang Jaya dan Tgk Imum, kepada media ini pada Selasa (23/12/2025).

Menurut Rafi, sebagai pimpinan wilayah di tingkat kecamatan, camat seharusnya hadir dan responsif terhadap kondisi masyarakat, terlebih dalam situasi darurat bencana. Ia menilai ketidakhadiran camat di lokasi banjir maupun di barak pengungsian mencerminkan kurangnya kepedulian terhadap penderitaan warga.


“Dalam kondisi masyarakat sangat membutuhkan perhatian dan bantuan, justru keberadaan camat sulit dirasakan. Seharusnya semua keluhan masyarakat dapat ditampung dan dicarikan solusi,” ujar Rafi.

Ia juga menambahkan bahwa para santri dan santriwati Dayah Istiqamatuddin Babul Ilmi yang terdampak banjir saat ini sangat membutuhkan bantuan logistik dari pemerintah. Rafi mengaku telah berupaya mengurus bantuan tersebut dengan mendatangi Kepala Dinas Sosial Kabupaten Bireuen, yang bahkan telah memberikan rekomendasi atas persetujuan Sekretaris Daerah.

Namun demikian, bantuan tersebut belum dapat direalisasikan karena masih memerlukan rekomendasi dari Camat Juli yang hingga kini belum dikeluarkan. Akibatnya, bantuan logistik untuk sekitar 120 santri di dayah tersebut mengalami keterlambatan.

“Kami sudah mengikuti prosedur dan rekomendasi dari pemerintah daerah, namun terhambat di tingkat kecamatan. Ini sangat disayangkan, karena menyangkut kebutuhan dasar para santri yang terdampak bencana,” jelas Rafi.

Atas kondisi tersebut, Rafi bersama Abdulrahman menyatakan kekecewaan mendalam terhadap sikap pejabat yang seharusnya menjadi penghubung dan pelayan masyarakat di tingkat kecamatan.


Sementara itu, Abdulrahman dari Desa Simpang Jaya mengungkapkan bahwa selama ini bantuan yang diterima korban banjir lebih banyak berasal dari kepedulian masyarakat dan donatur, bukan dari pemerintah.

“Kami berharap camat dapat mempermudah urusan masyarakat, terutama di masa sulit seperti ini, bukan justru memperlambat proses bantuan,” tutup Abdulrahman. (Hendra)

 

Komentar